KATA PENGANTAR
Bismillah Hirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Dengan memanjatkan puja dan puji
Syukur kehadirat Allah SWT, sehingga atas ridhanya makalah Filsafat Ilmu dapat terselesaikan. Tidak lupa Shalawat serta salam
semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw. yang kelak
kita nanti-nantikan syafa’atnya dihari yaumul qiyamah dan beliau juga yang
telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh cahaya.
Penyusun mengucapkan terima kasih
kepada pembimbing mata kuliah Filsafat
Ilmu, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulis menyadari
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfa’at
bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya, amin ya rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Banjarmasin, November
2013
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar....................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
Klasifikasi Ilmu
A. Klasifikasi Ilmu menurut Thomas S Kuhn......................................................... 4
B. Klasifikasi Ilmu menurut Jurgen Habermas....................................................... 9
BAB III PENUTUP
Simpulan & Saran .................................................................................................. 12
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia selalu ingin tahu apa yang memang tampak konkret dan
nyata. Segala sesuatu yang nampak dan diketahuinya akan menjadi sebuah
pengetahuan. Pembuktiaan secara inderawi yang menyatakan kebenaran tentang
pengetahuan tersebut. Tetapi pengalaman indrawi belumlah cukup untuk
menghasilkan suatu pengetahuan. Pengalaman indrawi tersebut harus mengalami
proses ilmiah yang lebih lanjut atau disebut sebagai proses metodologis. Dalam
proses metodologis ini, diperlukan prinsip epistemologi yang dapat mengkaji
lebih dalam tentang pengetahuan. Epistemologis mencakup berbagai hal seperti
batas pengetahuan, sumber pengetahuan, serta kriteria kebenaran.
Pembuktian pengetahuan diperlukan untuk keabsahan suatu
teori pengetahuan. Kita dapat melihat perkembangan pengetahuan lewat suatu
Paradigma Thomas Kuhn dan Jurgen Hubermas. Thomas Kuhn berfikir bahwa dalam
kenyataannya teori utama dalam ilmu pengetahuan alam tidak dapat difalsifikasi
secara langsung. Ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan
berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang
didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami
perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ilmu pengetahuan tidak secara
otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan
dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang
bersifat gradual (bertahap) dan kumulatif (penyimpulan).
Berbeda dengan pandangan Jurgen Habermas tentang klasifikasi
ilmu ini, oleh karena itu pada makalah ini penulis akan menjelaskan lebih dalam
lagi mengenai bagaimana pendapat Thomas S Kuhn dan Jurgen Habermas mengenai
klasifikasi ilmu.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi ilmu menurut
Thomas S Kuhn ?
2. Bagaimana klasifikasi ilmu menurut
Jurgen Habermas ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Klasifikasi
Ilmu Menurut Thomas S Kuhn
Thomas S. Kuhn lahir pada tanggal 18 Juli 1922 di
Cincinnati, Ohio Amerika Serikat. Pada
awalnya tahun 1949, ia memulai karir akademis sebagai ahli fisika dan kemudian
mengalihkan perhatiannya kepada sejarah ilmu. Sejak karya utamanya, The
Sructure of Scientific Revolution, Kuhn telah mengemukakan bahwa ia
menggunakan istilah “paradigma” dalam pengertian kembar. Di dalam postcriptnya
edisi 1970, ia membedakan pengertian umum istilah itu, yang kini ia sebut
sebagai disciplinary matrix (pola ilmiah) dan pengertian sempitnya yang
telah diganti dengan exemplar-contoh atau teladan. Selain, The Sructure of
Scientific Revolution, karya modifikasi Kuhn mengenai idenya yang orisinal
tentang paradigma lebih terperinci adalah Second Thoughts of Paradigms
yang diterbitkan pada tahun 1973 di Urbana : University of Illinois Fress (Chalmers,
1983:95-105). Dimasa-masa akhir hidupnya Kuhn menderita sakit kanker selama
beberapa tahun, dan dia mengakhiri kehidupannya pada hari Senin, 17 juni 1996
dalam usia 73 tahun.
Kuhn mengimplikasikan bahwa ilmu tidak berkembang secara
komulatif dan evolutioner, melainkan dengan cara revolusioner. Kuhn juga
menekankan aspek psikologi dan komunal
dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam suatu diskusi yang agak panjang
dengan Popper, posisi Kuhn ini dikecam sebagai psychology of discovery,
sedang Popper menanamkan posisinya sebagai Logic of discovery.
Jasa Kuhn sebenarnya terletak pada pendobrakan citra filsafat ilmu sebagai
logika ilmu dan citra bahwa ilmu adalah suatu kenyataan yang punya kebenaran
seakan-akan sui-generis atau objektif.[1]
Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat
digambarkan secara umum kedalam tahap-tahap atau pengkasifikasian sebagai
berikut:
1. Normal Science (ilmu dalam posisi
normal, ilmuan tidak kritis terhadap paradigma ilmu yang dianuti).
2. Anomali (penumpukan anomali
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap paradigma lalu paradigma diuji,
dikritik. Ilmuwan keluar dari situasi normal).
3. Paradigma baru (Ilmuwan memodifikasi
paradigma baru untuk memecahkan masalah yang sedang digeluti, ada revolusi
ilmiah)
Sedikit penjelasan tentang tahapan-tahapan dan
pengklasifikasian diatas adalah sebagai berikut:
Ø Tahap
pertama,
paradigma ilmu membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu
normal (Normal Science). Karena dalam wilayah ini sering terjadi banyak
persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara tuntas. Dan keadaan seperti
itulah yang disebut oleh Kuhn sebagai “anamolies”, keganjilan-keganjilan,
ketidaktepatan, penyimpangan-penyimpanga. Dengan penempelan anomaly pada
tahapan ini yang sering kali membuat para pelaksana di lapangan tidak
merasakannya. Hanya para peneliti serius tertentu, para pengamat, dan kritikus
yang secara relative mengetahui adannya anomaly tersebut. Yang sering disebut
mereka itulah pelaku dari sains yang luar biasa.
Disini para ilmuan berkesempatan menjabarkan dan
mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan
mendalam. Dalam tahap ini para ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma
yang membimbing aktivitas ilmiahnya. Selama menjalankan aktivitas ilmiah itu
para ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan
paradigma yang digunakan sebagai bimbingan atau arahan aktivitas ilmiahnya itu,
ini dinamakan anomali.
Ø Tahap
kedua, menumpuknya
anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigma.
Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuan mulai keluar dari
jalur ilmu normal. Namun jika ditemukan sebuah pemecahan yang lebih memuaskan
oleh para ilmuan, artinya suatu komunitas ilmiah yang dapat menyelesaikan
keadaan krisisnya dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigma baru, maka
terjadilah apa yang disebut oleh kuhn sebagai “revolusi sains”.
Ø Tahap
ketiga, para
ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan
mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah
dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigma
lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.[2]
Menurut Khun filsafat ilmu seharusnya berguru pada sejarah
ilmu baru ( tanggapan terhadap Popper). Popper dituduh menjungkirbalikan
kenyataan yang terlebih dahulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui
hepotesis yang diikuti falsifikasi. Setelah itu baru ia mengambil contoh-contoh
dalam sejarah ilmu pengetahuan sebagai bukti untuk membela anggapannya. Menurt
Khun, kita harus lebih berguru pada sejarah ilmu sebagai titik pangkal semua
penelitian. Dengan ini filsafat ilmu pengetahuan lebih mendekati kenyataan ilmu
dan aktivitas ilmiah yang sesungguhnya. Baginya kemajuan ilmiah pertama-tama
bersifat revolusioner. Konsep utama Khun adalah paradigm (pola atau contoh).[3]
1. Pandangan
Kuhn Tentang Ilmu
Gambaran Kuhn tentang cara ilmu berkembang dapat
diringkaskan dalam suatu skema yang Open-ended, artinya sebuah akhir
yang selalu terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Skemanya
adalah sebagai berikut :
Pra ilmu - ilmu biasa - krisis - revolusi - ilmu biasa baru
- krisis baru
Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi yang
mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan terarah pada
saat suatu paradigma tunggal telah dianut suatu masyarakat ilmiah. Para pekerja
pada suatu paradigma mempraktekkan apa yang disebut Kuhn sebagai ilmu biasa (natural
sciene). Para ilmuwan biasa akan menjelaskan dan mengembangkan paradigma
dalam usaha untuk mempertanggungjawabkan dan menjabarkan prilaku beberapa aspek
yang relevan dengan dunia nyata ini, sebagaimana diungkapkan lewat hasil-hasil
eksperimen.[4]
Dalam melakukan ini, mereka tidak akan terelakan dari
mengalami kesulitan dan menjumpai falsifikasi-falsifikasi. Apabila telah bebas
dari kesulitan tersebut, maka berkembanglah keadaan krisis. Krisis teratasi
apabila lahir paradigma yang baru sepenuhnya dan menarik makin banyaknya
ilmuwan sampai akhirnya paradigma orisinal yang telah menimbulkan masalah itu
dilepaskan. Perubahan terus-menerus dan terputus-putus itu merupakan revolusi
ilmiah. Paradigma yang baru, yang penuh dengan janji tidak terkurung dari kesulitan-kesulitan
yang tidak dapat diatasi, sekarang lantas membimbing aktivitas ilmiah yang baru
dan biasa sampai pada akhirnya ia pun jatuh pada kesukaran yang serius dan
timbullah krisis baru yang diikuti oleh suatu revolusi baru.
Berikut ini adalah penjelasan
secara terperinci tentang komponen skema Kuhn diatas:
a. Paradigma dan Ilmu Biasa
a. Paradigma dan Ilmu Biasa
Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh suatu paradigma
tunggal. Paradigma menetapkan standard-standar pekerjaan yang sah di dalam
lingkungan yang dikuasai ilmu itu. Menurut Kuhn, eksistensi suatu paradigma
yang mampu mendukung tradisi ilmu biasa merupakan cirri yang membedakan ilmu
dengan non ilmu. Contoh, selama abad 19 paradigma Newtonian dikuasai oleh suatu
asumsi seperti “ seluruh dunia fisika hendaknya diterangkan sebagai suatu
system mekanika yang beroperasi dibawah pengaruh berbagai macam gaya menurut
perintah hokum-hukum gerak Newton”. Akhirnya semua paradigma akan mengandung
beberapa keterangan metodelogis yang sangat umum.
Ilmu biasa melibatkan usaha-usaha terperinci untuk
menjabarkan suatu paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam.
Suatu paradigma akan selalu secukupnya, tidak terlalu ketat dan mempunyai akhir
yang selalu terbuka sehingga menimbulkan banyak macam pekerjaan untuk
ditangani. Kuhn memandang ilmu biasa sebagai aktivitas pemecahan teka-teki yang
dibimbing aturan-aturan suatu paradigma. Teka-teki itu bisa teoritis maupun
eksperimental.
Kegagalan memecahkan teka-teki dianggap sebagai kegagalan
ilmuwan itu sendiri bukan kegalemahan paradigma. Teka-teki yang gagal
dipecahkan dianggap sebagai anomali (kelainan) ketimbang sebagai falsifikasi
suatu paradigma. Kuhn mengakui bahwa semua paradigma mengandung anomali.
Seorang ilmu biasa harus tidak kritis terhadap paradigma
tempat ia bekerja agar ia dapat memusatkan upayanya pada pencabaran yang
terperinci dan pada penyelesaian pekerjaan keahlian yang diperlukan untuk
menyelidiki alam dalam kedalamannya.[5]
b. Krisis dan Revolusi
Ilmuwan biasa berkerja dengan yakin disuatu bidang yang
jelas batasan-batasan nya menurut suatu petunjuk paradigma. Apabila ia
menyalahkan paradigma karena gagal memecahkan masalah, ia akan terbuka untuk
tuduhan yang sama seperti seorang tukang yang menyalahkan perkakasnya.
Sekalipun demikian, kegagalan-kegagalan akan dijumpai dan pada akhirnya
mencapai tingkat gawat yang merupakan krisis serius bagi paradigma itu.
Adanya problema yang tidak terpecahkan saja tidak akan
menyebabkan krisis. Kuhn mengakui bahwa paradigma pasti akan menjumpai
kesulitan. Kesulitan tersebut, menjadi serius apabila ia menyerang hal-hal yang
fundamental dari suatu paradigma dan jika kelainan itu secara gigih menentang
usaha para anggota masyarakat ilmiah biasa untuk menyampingkannya. Kelainan
juga menjadi serius apabila ada kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat
yang mendesak.
Sekali suatu paradigma telah diperlemah oleh batas sehingga
para pendukungnya kehilangan kepercayaan kepadanya, berarti waktunya sudah
masak ke revolusi. Kegawatan suatu krisis menjadi mendalam disaat suatu
paradigma lawan telah menampilkan dirinya.
Tidak ada alasan yang logis menurut Kuhn yang murni
mendemonstrasikan superioritas suatu paradigma atas paradigma lainnya, oleh
sebab itu seorang ilmuwan secara rasional dapat berpindah dari paradigma yang
satu ke paradigma lawan. Paradigma-paradigma yang bersaing tidak dapat saling
diukur dengan standard yang sama.
Suatu revolusi ilmiah adalah sama dengan membuang paradigma
lama dan menerima paradigma yang baru. Revolusi akan berhasil bila pengalihan
ini akan harus menyebar begitu rupa sehingga meliputi mayoritas masyarakat
ilmiah bersangkutan dengan meninggalkan hanya sedikit orang-orang yang
memisahkan diri.
c. Fungsi Ilmu Biasa dan Revolusi
Beberapa aspek dari tulisan Kuhn mungkin memberikan kesan
bahwa pandangannya tentang watak ilmu adalah murni deskriptif, yaitu bahwa ilmu
itu bertujuan untuk tidak lebih dari menguraikan teori-teori ilmiah atau
paradigma-paradigma dan aktivitas para ilmuwan. Kuhn beranggapan bahwa
pandangannya mengandung suatu teori tentang ilmu karena berisi tentang fungsi
berbagai macam komponennya.
Menurut Kuhn, ilmu biasa dan revolusi melayani fungsi-fungsi
tertentu yang perlu, sehingga ilmu itu harus melibatkan sifat-sifat beberapa
ciri lain yang bisa melayani pelaksanaan fungsi-fungsi tadi.
Suatu paradigma mengandung kerangka khusus dari mana dunia
dipandang dijabarkan dan ia pun mengandung seperangkat teknik eksperimen dan
teoritis yang memungkinkan paradigma mengimbangi alam. Bila suatu krisis
berkembang , langkah revolusioner untuk menggantikan keseluruhan paradigma
dengan yang lainnya menjadi esensial untuk kemajuan efektif suatu ilmu.
Kemajuan melalui revolusi adalah alternatif Kuhn untuk
kemajuan yang kumulatif sebagaimana menjadi ciri pandangan induktivis tentang
ilmu namun menurut Kuhn, itu adalah keliru karena ia mengabaikan peranan yang
dimainkan oleh paradigma dalam membimbing observasi eksperimen.
Pemikiran Thomas Kuhn merupakan kritik dari Karl Popper yang
menyatakan bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang
bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori
ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada.
Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu
pengetahuan.
Kebenaran koherensi yaitu adanya
kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang
memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa
skema, sistem, atau pun nilai.[6]
Dengan melihat perbedaan pemikiran antara Thomas Kuhn dan
Karl Popper, kita dapat melihat perkembangan atau kritik untuk menemukan suatu
keabsahan ilmu – ilmu baru. Filsafat ilmu membahas persoalan ilmu pengetahuan
dengan berbagai masalahnya, terutama yang berkaitan dengan metodologi atau
pembenaran ilmiah. Sehingga, ciri keilmiahan suatu ilmu pengetahuan dengan cara
kerja ilmiah menjadi bahan yang dikaji dalam filsafat ilmu. Dalam mengkaji ciri
dan cara kerja ilmu pengetahuan itu, harus berlandaskan rasionalitas. Dengan
demikian, rasionalitas sebagai media untuk filsafat ilmu dan epistemologi dalam
menemukan kebenaran ilmiah.
B. Klasifiksi
Ilmu Menurut Jurgen Habermas
Jurgen Habermas lahir di Dusseldorf, Jerman pada
tanggal 18 Juni 1929, ia berasal dari kelas menengah. Ia lahir ketika perang
dunia II. Habermas adalah tokoh yang banyak mewarisi ideal-ideal modern
pencerahan.
Pada tahun 1959, Habermas tiba di Institut
Penelitian Sosial di Frankfurt dan bergabung dengan Mazhab Frankfurt. Kemudian
ia menjadi asisten dari Theodor Adorno dan sekaligus sebagai staf institusi.
Pada tahun 1961, Habermas menjadi dosen muda dan menyelesaikan disertasi
keduanya di Universitas Marburg. Kemudian pada tahun 1971-1981, ia menjadi
direktur Max Planck Institute. Dan pada tahun1994 ia menjadi guru besar
filsafat dan emeritus di Universitas Frankfurt. Ia memenangi sejumlah
penghargaan akademis dan dianugerahi guru besar kehormatan di sejumlah
universitas.
Pandangan Jurgen Habermas tentang klasifikasi ilmu
sangat terkait dengan sifat dan jenis ilmu,
pengetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas, dan tujuan ilmu pengetahuan
itu sendiri.
Menurut Ignas Kleden menunjukan pandangan Habermas
yaitu ada 3 kegiatan utama yang langsung mempengaruhi dan menentukan bentuk
tindakan dan bentuk pengetahuan manusia, yaitu kerja, komunikasi, dan
kekuasaan. Kerja dibimbing oleh kepentingan yang bersifat teknis, interaksi
dibimbing oleh kepentingan yang bersifat praktis, sedangkan kekuasaan dibimbing
oleh kepentingan yang bersifat emansipatoris. Ketiga kepentingan ini
mempengaruhi pula proses terbentuknya ilmu pengetahuan, yaitu ilmu-ilmu
empiris-analisis, ilmu historis-hermeneutis, dan ilmu sosial kritis (ekonomi,
sosiologi, dan politik).
Ilmu-ilmu empiris-analisis memiliki ciri-ciri :
1.
Memiliki satu sistem referensi
yang sama, yang menentukan arti proposisi-proposisi empiris, peraturan untuk
membangun suatu teori dan peraturan tentang pengujian empiris yang akan
dikenakan pada teori yang bersangkutan (nomologis).
2.
Ilmu empiris-analisis menghasilkan
teori-teori yang muncul kemudian dengan bantuan metode deduksi, dan
memungkinkan diturunkannya hipotesa-hipotesa yang lebih banyak kendungan
empirisnya.
3.
Hipotesa-hipotesa ini merupakan
poposisi tentang kolerasi antar variabel (kovarians) dalam suatu objek yang
diamati, yang kemudian dapat pula menghasilkan ramalan (prognose) tertentu.
4.
Arti tiap prognose terdapat dalam
manfaat teknisnya, sebagaimana yang ditentukan oleh aturan-aturan tentang
aplikasi suatu teori.
5.
Kenyataan yang hendak disingkapkan
oleh teori-teori empiris-analitis adalah kenyataan yang dipengaruhi oleh
kepentingan untuk memperoleh informasi, yang diperlukan untuk mengembangkan
kemampuan teknis manusia dengan bantuan suatu model feed back monitoring (suatu test empiris akan mentransfer-balik
konfirmasi atau falsifikasi kepada hipotesa).
Pada akhir ilmu empiris-analitis ini akan
menghasilkan informasi-informasi, yang akan memperbesar penguasaan teknis pada
manusia.
Ilmu-ilmu historis-hermeneutis memiliki ciri-ciri
berikut :
1.
Jalan untuk mendekati kenyataan
melalui pemahaman arti.
2.
Ujian terhadap salah-benarnya
pemahaman tersebut dilakukan melalui interpretasi. Interpretasi yang benar akan
meningkatkan intersubjektivitas, sedang interpretasi yang salah akan
mendatangkan sanksi (contoh: senyum basa-basi yang diinterpretasikan jatuh
cinta!).
3.
Pemahaman hermeneutis selalu
merupakan pemahaman berdasarkan pra-pengertian. Pemahaman situasi orang lain
hanya mungkin tercapai melalui pemahaman atas situasi diri sendiri terlebih
dahulu. Pemahaman berarti menciptakan komunikasi antara kedua situasi tersebut.
4.
Komunikasi tersebut akan menjadi
semakin intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang hendak
memahaminya diaplikasikan kepada dirinya sendiri.
5.
Kepentingan yang ada disini adalah
kepentingan untuk mempertahankan dan meperluas intersubjektivitas dalam
komunikasi, yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban yang
harus ditaati.
Ilmu-ilmu historis-hermeneutis akan menghasilkan
interpretasi-interpretasi yang memungkinkan adanya suatu orientasi bagi tidakan
manusia dalam kehidupan bersama.
Ilmu-ilmu sosial-kitis memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
1.
Menghasilkan pengetahuan nomologis
(laws of nature) yang diturunkan dari
suatu sistem referensi yang sama.
2.
Meneliti apakah teori-teori yang
ada (khususnya theories of action)
benar-benar menangkap korelasi tetap yang sungguh ada dalam social action, bukan hanya menunjukan
suatu korelasi semu yang dipaksakan secara ideologis.
3.
Tujuan yang hendak dicapai ialah
mengguncang kembali lapisan kesadaran yang sudah malas (nonreflective) yang menjadi kondisi yang sangat cocok bagi
munculnya hubungan-hubungan yang bersifat ketergantungan.
4.
Tujuan tersebut dicapai melalui self-reflection.
Ilmu sosial-kritis akan menghasilkan analisis yang
membebaskan kesadaran manusia dari kungkungan kepercayaaan yang didikte oleh
ketergantungan kepada kekuasaan ataupun ketergantungan struktural. Ketiga
kelompok ilmu ini, Ignas Kleden, mempunyai hubungan kritis yang bersifat timbal
balik.
Ø Pertama, ilmu
empiris-analitis mencegah kelompok historis-hermeneutis dari subjektivisme yang
ditandai dengan interprestasi sewenang-wenang, sebaliknya ilmu
historis-hermeneutis mencegah kelompok empiris-analitis supaya tidak terjebak
kedalam determinisme buta.
Ø Kedua, ilmu
sosial-kritis mencegah kelompok ilmu empiris-analitis dari pengelabuan
kesadaran hukum ilmiah dan objektivisme, dan memberikan perspektif kepada ilmu
historis-hermeneutis bahwa dunia kesadaran subjektif dan dunia sosial adalah
dua dunia yang berbeda, sebaliknya ilmu empiris-analitis mencegah ilmu
sosial-kritis dari penciptaan mitos karena sosio-analisis yang terlampau
politis.[7]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Ternyata Thomas Khun, memahami tentang kemajuan di dalam
ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan
teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan
mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa
ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada
bukti–bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut
terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif. Sedangkan Jurgen
Habermas, ilmu pengetahuan sangat terkait dengan sifat dan jenis ilmu,
pegetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas dan tujuannya. Sifat ilmu ia
bagi menjadi 3, yaitu pertama
empiris-analitis dengan jenis ilmunya seperti ilmu alam dan sosial empiris yang
akan menghasilkan informasi dengan tujuan untuk penguasaan teknik. Kedua historis-hermeneutis dengan jenis
ilmunya humaniora yang akan menghasil interpretasi dengan tujuan untuk
pengembangan intersubjekuf. Ketiga sosial-kritis
dengan jenis ilmunya seperti ekonomi, sosiologi dan politik yang akan
menghasilkan sebuah analisis dengan tujuan untuk pemberbasan kesadaran
reflektif.
Saran
Inilah hasil makalah kami, kami
selaku penulispun memohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah
ini, baik dalam penulisan dan kosa kata yang kiranya sulit untuk dipahami.
Kritik dan sarannya sangat kami harapkan.
Daftar
Pustaka
Verhak
dan Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta: 1989
Muhammad
Muslih, Filsafat Ilmu, Belukar,
Yogayakarta: 2004
Konrad
Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan, PT. Prestasi Raya, Jakarta: 2011
Rizal
Muntasyir & Misnal Munir, Filsafat
Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
http://adyimoel27.blogspot.com/2011/12/filsafat-ilmu.html ,diakses Jumad, 15-11-2013 14:30
WITA.
[1]Verhak dan Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan,
(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1989) Hal. 165-166
[2]Muhammad muslih, Filsafat Ilmu,
(Yogayakarta: Belukar, 2004) hal. 134-135
[3] Konrad Kebung, Filsafat Ilmu
Pengetahuan, (Jakarta: PT. Prestasi Raya, 2011) hal. 79
[4]http://adyimoel27.blogspot.com/2011/12/filsafat-ilmu.html, di akses Jumad, 15-11-2013 14:30 WITA.
[5]
Ibid.,
[6]
Ibid.,
[7]Rizal
Muntasyir & Misnak Munir, Filsafat
Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003) hal. 158-161
Tidak ada komentar:
Posting Komentar