Selasa, 27 Mei 2014

makalah klasifikasi ilmu





KATA PENGANTAR
Bismillah Hirrahmannirrahim

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan memanjatkan puja dan puji Syukur kehadirat Allah SWT, sehingga atas ridhanya makalah Filsafat Ilmu dapat terselesaikan. Tidak lupa Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw. yang kelak kita nanti-nantikan syafa’atnya dihari yaumul qiyamah dan beliau juga yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh cahaya.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pembimbing mata kuliah Filsafat Ilmu, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfa’at bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya, amin ya rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Banjarmasin,   November 2013

 Penulis




DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
            Klasifikasi Ilmu
A. Klasifikasi Ilmu menurut Thomas S Kuhn......................................................... 4
B. Klasifikasi Ilmu menurut Jurgen Habermas....................................................... 9
BAB III PENUTUP
Simpulan & Saran .................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 13










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia selalu ingin tahu apa yang memang tampak konkret dan nyata. Segala sesuatu yang nampak dan diketahuinya akan menjadi sebuah pengetahuan. Pembuktiaan secara inderawi yang menyatakan kebenaran tentang pengetahuan tersebut. Tetapi pengalaman indrawi belumlah cukup untuk menghasilkan suatu pengetahuan. Pengalaman indrawi tersebut harus mengalami proses ilmiah yang lebih lanjut atau disebut sebagai proses metodologis. Dalam proses metodologis ini, diperlukan prinsip epistemologi yang dapat mengkaji lebih dalam tentang pengetahuan. Epistemologis mencakup berbagai hal seperti batas pengetahuan, sumber pengetahuan, serta kriteria kebenaran.
Pembuktian pengetahuan diperlukan untuk keabsahan suatu teori pengetahuan. Kita dapat melihat perkembangan pengetahuan lewat suatu Paradigma Thomas Kuhn dan Jurgen Hubermas. Thomas Kuhn berfikir bahwa dalam kenyataannya teori utama dalam ilmu pengetahuan alam tidak dapat difalsifikasi secara langsung. Ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual (bertahap) dan kumulatif (penyimpulan).
Berbeda dengan pandangan Jurgen Habermas tentang klasifikasi ilmu ini, oleh karena itu pada makalah ini penulis akan menjelaskan lebih dalam lagi mengenai bagaimana pendapat Thomas S Kuhn dan Jurgen Habermas mengenai klasifikasi ilmu.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana klasifikasi ilmu menurut Thomas S Kuhn ?
2.      Bagaimana klasifikasi ilmu menurut Jurgen Habermas ?



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Klasifikasi Ilmu Menurut Thomas S Kuhn

Thomas S. Kuhn lahir pada tanggal 18 Juli 1922 di Cincinnati, Ohio Amerika Serikat.  Pada awalnya tahun 1949, ia memulai karir akademis sebagai ahli fisika dan kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sejarah ilmu. Sejak karya utamanya, The Sructure of Scientific Revolution, Kuhn telah mengemukakan bahwa ia menggunakan istilah “paradigma” dalam pengertian kembar. Di dalam postcriptnya edisi 1970, ia membedakan pengertian umum istilah itu, yang kini ia sebut sebagai disciplinary matrix (pola ilmiah) dan pengertian sempitnya yang telah diganti dengan exemplar-contoh atau teladan. Selain, The Sructure of Scientific Revolution, karya modifikasi Kuhn mengenai idenya yang orisinal tentang paradigma lebih terperinci adalah Second Thoughts of Paradigms yang diterbitkan pada tahun 1973 di Urbana : University of Illinois Fress (Chalmers, 1983:95-105). Dimasa-masa akhir hidupnya Kuhn menderita sakit kanker selama beberapa tahun, dan dia mengakhiri kehidupannya pada hari Senin, 17 juni 1996 dalam usia 73 tahun.
Kuhn mengimplikasikan bahwa ilmu tidak berkembang secara komulatif dan evolutioner, melainkan dengan cara revolusioner. Kuhn juga menekankan aspek psikologi dan  komunal dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam suatu diskusi yang agak panjang dengan Popper, posisi Kuhn ini dikecam sebagai psychology of discovery, sedang Popper menanamkan posisinya sebagai Logic of discovery. Jasa Kuhn sebenarnya terletak pada pendobrakan citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu dan citra bahwa ilmu adalah suatu kenyataan yang punya kebenaran seakan-akan sui-generis atau objektif.[1]
Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum kedalam tahap-tahap atau pengkasifikasian sebagai berikut:
1.     Normal Science (ilmu dalam posisi normal, ilmuan tidak kritis terhadap paradigma ilmu yang dianuti).
2.     Anomali (penumpukan anomali menimbulkan krisis kepercayaan terhadap paradigma lalu paradigma diuji, dikritik. Ilmuwan keluar dari situasi normal).
3.     Paradigma baru (Ilmuwan memodifikasi paradigma baru untuk memecahkan masalah yang sedang digeluti, ada revolusi ilmiah)
Sedikit penjelasan tentang tahapan-tahapan dan pengklasifikasian diatas adalah sebagai berikut:
Ø    Tahap pertama, paradigma ilmu membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal (Normal Science). Karena dalam wilayah ini sering terjadi banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara tuntas. Dan keadaan seperti itulah yang disebut oleh Kuhn sebagai “anamolies”, keganjilan-keganjilan, ketidaktepatan, penyimpangan-penyimpanga. Dengan penempelan anomaly pada tahapan ini yang sering kali membuat para pelaksana di lapangan tidak merasakannya. Hanya para peneliti serius tertentu, para pengamat, dan kritikus yang secara relative mengetahui adannya anomaly tersebut. Yang sering disebut mereka itulah pelaku dari sains yang luar biasa.
Disini para ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini para ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiahnya. Selama menjalankan aktivitas ilmiah itu para ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan paradigma yang digunakan sebagai bimbingan atau arahan aktivitas ilmiahnya itu, ini dinamakan anomali.
Ø    Tahap kedua, menumpuknya anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuan mulai keluar dari jalur ilmu normal. Namun jika ditemukan sebuah pemecahan yang lebih memuaskan oleh para ilmuan, artinya suatu komunitas ilmiah yang dapat menyelesaikan keadaan krisisnya dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigma baru, maka terjadilah apa yang disebut oleh kuhn sebagai “revolusi sains”.
Ø    Tahap ketiga, para ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.[2]
Menurut Khun filsafat ilmu seharusnya berguru pada sejarah ilmu baru ( tanggapan terhadap Popper). Popper dituduh menjungkirbalikan kenyataan yang terlebih dahulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui hepotesis yang diikuti falsifikasi. Setelah itu baru ia mengambil contoh-contoh dalam sejarah ilmu pengetahuan sebagai bukti untuk membela anggapannya. Menurt Khun, kita harus lebih berguru pada sejarah ilmu sebagai titik pangkal semua penelitian. Dengan ini filsafat ilmu pengetahuan lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah yang sesungguhnya. Baginya kemajuan ilmiah pertama-tama bersifat revolusioner. Konsep utama Khun adalah paradigm (pola atau contoh).[3]

1.      Pandangan Kuhn Tentang Ilmu
Gambaran Kuhn tentang cara ilmu berkembang dapat diringkaskan dalam suatu skema yang Open-ended, artinya sebuah akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Skemanya adalah sebagai berikut :

Pra ilmu - ilmu biasa - krisis - revolusi - ilmu biasa baru - krisis baru

Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi yang mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan terarah pada saat suatu paradigma tunggal telah dianut suatu masyarakat ilmiah. Para pekerja pada suatu paradigma mempraktekkan apa yang disebut Kuhn sebagai ilmu biasa (natural sciene). Para ilmuwan biasa akan menjelaskan dan mengembangkan paradigma dalam usaha untuk mempertanggungjawabkan dan menjabarkan prilaku beberapa aspek yang relevan dengan dunia nyata ini, sebagaimana diungkapkan lewat hasil-hasil eksperimen.[4]
Dalam melakukan ini, mereka tidak akan terelakan dari mengalami kesulitan dan menjumpai falsifikasi-falsifikasi. Apabila telah bebas dari kesulitan tersebut, maka berkembanglah keadaan krisis. Krisis teratasi apabila lahir paradigma yang baru sepenuhnya dan menarik makin banyaknya ilmuwan sampai akhirnya paradigma orisinal yang telah menimbulkan masalah itu dilepaskan. Perubahan terus-menerus dan terputus-putus itu merupakan revolusi ilmiah. Paradigma yang baru, yang penuh dengan janji tidak terkurung dari kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diatasi, sekarang lantas membimbing aktivitas ilmiah yang baru dan biasa sampai pada akhirnya ia pun jatuh pada kesukaran yang serius dan timbullah krisis baru yang diikuti oleh suatu revolusi baru.
Berikut ini adalah penjelasan secara terperinci tentang komponen skema Kuhn diatas:
a. Paradigma dan Ilmu Biasa
Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh suatu paradigma tunggal. Paradigma menetapkan standard-standar pekerjaan yang sah di dalam lingkungan yang dikuasai ilmu itu. Menurut Kuhn, eksistensi suatu paradigma yang mampu mendukung tradisi ilmu biasa merupakan cirri yang membedakan ilmu dengan non ilmu. Contoh, selama abad 19 paradigma Newtonian dikuasai oleh suatu asumsi seperti “ seluruh dunia fisika hendaknya diterangkan sebagai suatu system mekanika yang beroperasi dibawah pengaruh berbagai macam gaya menurut perintah hokum-hukum gerak Newton”. Akhirnya semua paradigma akan mengandung beberapa keterangan metodelogis yang sangat umum.
Ilmu biasa melibatkan usaha-usaha terperinci untuk menjabarkan suatu paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam. Suatu paradigma akan selalu secukupnya, tidak terlalu ketat dan mempunyai akhir yang selalu terbuka sehingga menimbulkan banyak macam pekerjaan untuk ditangani. Kuhn memandang ilmu biasa sebagai aktivitas pemecahan teka-teki yang dibimbing aturan-aturan suatu paradigma. Teka-teki itu bisa teoritis maupun eksperimental.
Kegagalan memecahkan teka-teki dianggap sebagai kegagalan ilmuwan itu sendiri bukan kegalemahan paradigma. Teka-teki yang gagal dipecahkan dianggap sebagai anomali (kelainan) ketimbang sebagai falsifikasi suatu paradigma. Kuhn mengakui bahwa semua paradigma mengandung  anomali.
Seorang ilmu biasa harus tidak kritis terhadap paradigma tempat ia bekerja agar ia dapat memusatkan upayanya pada pencabaran yang terperinci dan pada penyelesaian pekerjaan keahlian yang diperlukan untuk menyelidiki alam dalam kedalamannya.[5]

b. Krisis dan Revolusi
Ilmuwan biasa berkerja dengan yakin disuatu bidang yang jelas batasan-batasan nya menurut suatu petunjuk paradigma. Apabila ia menyalahkan paradigma karena gagal memecahkan masalah, ia akan terbuka untuk tuduhan yang sama seperti seorang tukang yang menyalahkan perkakasnya. Sekalipun demikian, kegagalan-kegagalan akan dijumpai dan pada akhirnya mencapai tingkat gawat yang merupakan krisis serius bagi paradigma itu.
Adanya problema yang tidak terpecahkan saja tidak akan menyebabkan krisis. Kuhn mengakui bahwa paradigma pasti akan menjumpai kesulitan. Kesulitan tersebut, menjadi serius apabila ia menyerang hal-hal yang fundamental dari suatu paradigma dan jika kelainan itu secara gigih menentang usaha para anggota masyarakat ilmiah biasa untuk menyampingkannya. Kelainan juga menjadi serius apabila ada kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.
Sekali suatu paradigma telah diperlemah oleh batas sehingga para pendukungnya kehilangan kepercayaan kepadanya, berarti waktunya sudah masak ke revolusi. Kegawatan suatu krisis menjadi mendalam disaat suatu paradigma lawan telah menampilkan dirinya.
Tidak ada alasan yang logis menurut Kuhn yang murni mendemonstrasikan superioritas suatu paradigma atas paradigma lainnya, oleh sebab itu seorang ilmuwan secara rasional dapat berpindah dari paradigma yang satu ke paradigma lawan. Paradigma-paradigma yang bersaing tidak dapat saling diukur dengan standard yang sama.
Suatu revolusi ilmiah adalah sama dengan membuang paradigma lama dan menerima paradigma yang baru. Revolusi akan berhasil bila pengalihan ini akan harus menyebar begitu rupa sehingga meliputi mayoritas masyarakat ilmiah bersangkutan dengan meninggalkan hanya sedikit orang-orang yang memisahkan diri.

c. Fungsi Ilmu Biasa dan Revolusi
Beberapa aspek dari tulisan Kuhn mungkin memberikan kesan bahwa pandangannya tentang watak ilmu adalah murni deskriptif, yaitu bahwa ilmu itu bertujuan untuk tidak lebih dari menguraikan teori-teori ilmiah atau paradigma-paradigma dan aktivitas para ilmuwan. Kuhn beranggapan bahwa pandangannya mengandung suatu teori tentang ilmu karena berisi tentang fungsi berbagai macam komponennya.
Menurut Kuhn, ilmu biasa dan revolusi melayani fungsi-fungsi tertentu yang perlu, sehingga ilmu itu harus melibatkan sifat-sifat beberapa ciri lain yang bisa melayani pelaksanaan fungsi-fungsi tadi.
Suatu paradigma mengandung kerangka khusus dari mana dunia dipandang dijabarkan dan ia pun mengandung seperangkat teknik eksperimen dan teoritis yang memungkinkan paradigma mengimbangi alam. Bila suatu krisis berkembang , langkah revolusioner untuk menggantikan keseluruhan paradigma dengan yang lainnya menjadi esensial untuk kemajuan efektif suatu ilmu.
Kemajuan melalui revolusi adalah alternatif Kuhn untuk kemajuan yang kumulatif sebagaimana menjadi ciri pandangan induktivis tentang ilmu namun menurut Kuhn, itu adalah keliru karena ia mengabaikan peranan yang dimainkan oleh paradigma dalam membimbing observasi eksperimen.
Pemikiran Thomas Kuhn merupakan kritik dari Karl Popper yang menyatakan bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada. Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu pengetahuan.
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai.[6]
Dengan melihat perbedaan pemikiran antara Thomas Kuhn dan Karl Popper, kita dapat melihat perkembangan atau kritik untuk menemukan suatu keabsahan ilmu – ilmu baru. Filsafat ilmu membahas persoalan ilmu pengetahuan dengan berbagai masalahnya, terutama yang berkaitan dengan metodologi atau pembenaran ilmiah. Sehingga, ciri keilmiahan suatu ilmu pengetahuan dengan cara kerja ilmiah menjadi bahan yang dikaji dalam filsafat ilmu. Dalam mengkaji ciri dan cara kerja ilmu pengetahuan itu, harus berlandaskan rasionalitas. Dengan demikian, rasionalitas sebagai media untuk filsafat ilmu dan epistemologi dalam menemukan kebenaran ilmiah.

B.     Klasifiksi Ilmu Menurut Jurgen Habermas

Jurgen Habermas lahir di Dusseldorf, Jerman pada tanggal 18 Juni 1929, ia berasal dari kelas menengah. Ia lahir ketika perang dunia II. Habermas adalah tokoh yang banyak mewarisi ideal-ideal modern pencerahan.
Pada tahun 1959, Habermas tiba di Institut Penelitian Sosial di Frankfurt dan bergabung dengan Mazhab Frankfurt. Kemudian ia menjadi asisten dari Theodor Adorno dan sekaligus sebagai staf institusi. Pada tahun 1961, Habermas menjadi dosen muda dan menyelesaikan disertasi keduanya di Universitas Marburg. Kemudian pada tahun 1971-1981, ia menjadi direktur Max Planck Institute. Dan pada tahun1994 ia menjadi guru besar filsafat dan emeritus di Universitas Frankfurt. Ia memenangi sejumlah penghargaan akademis dan dianugerahi guru besar kehormatan di sejumlah universitas.
Pandangan Jurgen Habermas tentang klasifikasi ilmu sangat terkait dengan sifat dan  jenis ilmu, pengetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas, dan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Menurut Ignas Kleden menunjukan pandangan Habermas yaitu ada 3 kegiatan utama yang langsung mempengaruhi dan menentukan bentuk tindakan dan bentuk pengetahuan manusia, yaitu kerja, komunikasi, dan kekuasaan. Kerja dibimbing oleh kepentingan yang bersifat teknis, interaksi dibimbing oleh kepentingan yang bersifat praktis, sedangkan kekuasaan dibimbing oleh kepentingan yang bersifat emansipatoris. Ketiga kepentingan ini mempengaruhi pula proses terbentuknya ilmu pengetahuan, yaitu ilmu-ilmu empiris-analisis, ilmu historis-hermeneutis, dan ilmu sosial kritis (ekonomi, sosiologi, dan politik).
Ilmu-ilmu empiris-analisis memiliki ciri-ciri :
1.      Memiliki satu sistem referensi yang sama, yang menentukan arti proposisi-proposisi empiris, peraturan untuk membangun suatu teori dan peraturan tentang pengujian empiris yang akan dikenakan pada teori yang bersangkutan (nomologis).
2.      Ilmu empiris-analisis menghasilkan teori-teori yang muncul kemudian dengan bantuan metode deduksi, dan memungkinkan diturunkannya hipotesa-hipotesa yang lebih banyak kendungan empirisnya.
3.      Hipotesa-hipotesa ini merupakan poposisi tentang kolerasi antar variabel (kovarians) dalam suatu objek yang diamati, yang kemudian dapat pula menghasilkan ramalan (prognose) tertentu.
4.      Arti tiap prognose terdapat dalam manfaat teknisnya, sebagaimana yang ditentukan oleh aturan-aturan tentang aplikasi suatu teori.
5.      Kenyataan yang hendak disingkapkan oleh teori-teori empiris-analitis adalah kenyataan yang dipengaruhi oleh kepentingan untuk memperoleh informasi, yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan teknis manusia dengan bantuan suatu model feed back monitoring (suatu test empiris akan mentransfer-balik konfirmasi atau falsifikasi kepada hipotesa).
Pada akhir ilmu empiris-analitis ini akan menghasilkan informasi-informasi, yang akan memperbesar penguasaan teknis pada manusia.
Ilmu-ilmu historis-hermeneutis memiliki ciri-ciri berikut :
1.      Jalan untuk mendekati kenyataan melalui pemahaman arti.
2.      Ujian terhadap salah-benarnya pemahaman tersebut dilakukan melalui interpretasi. Interpretasi yang benar akan meningkatkan intersubjektivitas, sedang interpretasi yang salah akan mendatangkan sanksi (contoh: senyum basa-basi yang diinterpretasikan jatuh cinta!).
3.      Pemahaman hermeneutis selalu merupakan pemahaman berdasarkan pra-pengertian. Pemahaman situasi orang lain hanya mungkin tercapai melalui pemahaman atas situasi diri sendiri terlebih dahulu. Pemahaman berarti menciptakan komunikasi antara kedua situasi tersebut.
4.      Komunikasi tersebut akan menjadi semakin intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang hendak memahaminya diaplikasikan kepada dirinya sendiri.
5.      Kepentingan yang ada disini adalah kepentingan untuk mempertahankan dan meperluas intersubjektivitas dalam komunikasi, yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban yang harus ditaati.
Ilmu-ilmu historis-hermeneutis akan menghasilkan interpretasi-interpretasi yang memungkinkan adanya suatu orientasi bagi tidakan manusia dalam kehidupan bersama.
Ilmu-ilmu sosial-kitis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Menghasilkan pengetahuan nomologis (laws of nature) yang diturunkan dari suatu sistem referensi yang sama.
2.      Meneliti apakah teori-teori yang ada (khususnya theories of action) benar-benar menangkap korelasi tetap yang sungguh ada dalam social action, bukan hanya menunjukan suatu korelasi semu yang dipaksakan secara ideologis.
3.      Tujuan yang hendak dicapai ialah mengguncang kembali lapisan kesadaran yang sudah malas (nonreflective) yang menjadi kondisi yang sangat cocok bagi munculnya hubungan-hubungan yang bersifat ketergantungan.
4.      Tujuan tersebut dicapai melalui self-reflection.
Ilmu sosial-kritis akan menghasilkan analisis yang membebaskan kesadaran manusia dari kungkungan kepercayaaan yang didikte oleh ketergantungan kepada kekuasaan ataupun ketergantungan struktural. Ketiga kelompok ilmu ini, Ignas Kleden, mempunyai hubungan kritis yang bersifat timbal balik.
Ø  Pertama, ilmu empiris-analitis mencegah kelompok historis-hermeneutis dari subjektivisme yang ditandai dengan interprestasi sewenang-wenang, sebaliknya ilmu historis-hermeneutis mencegah kelompok empiris-analitis supaya tidak terjebak kedalam determinisme buta.
Ø  Kedua, ilmu sosial-kritis mencegah kelompok ilmu empiris-analitis dari pengelabuan kesadaran hukum ilmiah dan objektivisme, dan memberikan perspektif kepada ilmu historis-hermeneutis bahwa dunia kesadaran subjektif dan dunia sosial adalah dua dunia yang berbeda, sebaliknya ilmu empiris-analitis mencegah ilmu sosial-kritis dari penciptaan mitos karena sosio-analisis yang terlampau politis.[7]

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Ternyata Thomas Khun, memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti–bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif. Sedangkan Jurgen Habermas, ilmu pengetahuan sangat terkait dengan sifat dan jenis ilmu, pegetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas dan tujuannya. Sifat ilmu ia bagi menjadi 3, yaitu pertama empiris-analitis dengan jenis ilmunya seperti ilmu alam dan sosial empiris yang akan menghasilkan informasi dengan tujuan untuk penguasaan teknik. Kedua historis-hermeneutis dengan jenis ilmunya humaniora yang akan menghasil interpretasi dengan tujuan untuk pengembangan intersubjekuf. Ketiga sosial-kritis dengan jenis ilmunya seperti ekonomi, sosiologi dan politik yang akan menghasilkan sebuah analisis dengan tujuan untuk pemberbasan kesadaran reflektif.

Saran
            Inilah hasil makalah kami, kami selaku penulispun memohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini, baik dalam penulisan dan kosa kata yang kiranya sulit untuk dipahami. Kritik dan sarannya sangat kami harapkan.









Daftar Pustaka

Verhak dan Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1989
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu,  Belukar, Yogayakarta: 2004
Konrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan, PT. Prestasi Raya, Jakarta: 2011
Rizal Muntasyir & Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
http://adyimoel27.blogspot.com/2011/12/filsafat-ilmu.html ,diakses Jumad, 15-11-2013 14:30 WITA.


[1]Verhak dan Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1989) Hal. 165-166

[2]Muhammad muslih, Filsafat Ilmu, (Yogayakarta: Belukar, 2004) hal. 134-135
[3] Konrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: PT. Prestasi Raya, 2011) hal. 79
[4]http://adyimoel27.blogspot.com/2011/12/filsafat-ilmu.html, di akses Jumad, 15-11-2013 14:30 WITA.
[5] Ibid.,
[6] Ibid.,
[7]Rizal Muntasyir & Misnak Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003) hal. 158-161

Tidak ada komentar:

Posting Komentar