BAB I
A. SEJARAH
PARA PERAWI HADITS
Pengertian
Rijalul Hadist
Ilmu Rijalul Hadist adalah suatu ilmu yang membahas
tentang keadaan-keadaan perowi, perjalanan hidup mereka baik dari kalangan
sahabat, tabi’in, dan tabi’in. Dalam definisi lain dapat di simpukan bahwa ilmu
Rijalul Hadist adalah sejarah perowi-perowi hadist dan mazhab-mazhab yang
mereka pegang yang dengan mempelajari sejarahnya dapat di terima atau di
tolaknya riwayat mereka.
1. Imam Bukhari (wafat 256 H.).
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail
bin Ibrahim bin Mughirah bin Yardizhab al Bukhari.
Lahir pada hari jum’at 13 Syawal
194 H. Di sebuah desa di Bukhara (Tasykent) Asia Tengah.
Beliau seorang Ahli Hadits yang menghabiskan umurnya
khusus untuk mengumpulkan hadits – hadits Nabi yang ketika itu masih bercerai –
berai terletak didalam dada Ulama – ulama pemangku hadits. Didatangi beliau
kota – kota, desa – desa dan daerah – daerah Islam ketika itu, ditanya,
diambil, dikumpulkan hadits – hadits Nabi, diteliti matannya (lafadznya)
diperhatikan sanadnya (orang – orang yang memangkunya), kemudian dituliskan kedalam
kitab beliau yang bernama “Kitab Sahih Bukhari”.
Diantara hadits – hadits itu ada
juga yang dituliskan dalam kitab – kitab yang lain yaitu dalam kitab “Adabul
Mufrad”, kitab “Tarekh Al-Kabir”, dan lain – lainya.
Beliau telah mengumpul sebanyak
600.000 hadits, yang kemudian setelah disaring dan disaring dari berbagai segi,
maka yang dituliskan dalam “Kitab Sahih Bukhari” saja sebanyak 7275 dan sesudah
dikurangi yang berulang – ulang, adalah sebanyak 2513 hadits.
Sepanjang riwayat, bahwa pada
setiap akan menuliskan hadits dalam kitab Sahih Bukhari, beliau berudhu’ dengan
air zam – zam dan sembahyang sunah 2 raka’at di makam Ibrahim As. Ini berarti
bahwa sekalian hadits Bukhari ditulis di Mekkah dekat Ka’bah Al-Musyarrafah.
Bukan saja dituliskan tetapi juga
Imam Bukhari telah membacakan hadits – hadits itu kepada murid – murid beliau
yang banyak sekali.
Sepanjang riwayat sampai 90.000
orang banyaknya yang mendengar dari mulut beliau. Tetapi walaupun beliau Ahli
Hadits No.1, namun dalam furu’ syari’at beliau menganut Madzhab Syafi’i RHL.
4
Kitab Shahih Bukhari adalah
sebuah kitab yang dianggab oleh Umat Islam sebagai kitab hadits yang paling
sahih diatas dunia ini, nomor dua dibawah Al-Qur’an.
Beliau wafat di Bukhara desa Kartank di samarkan tahun
256 H. Dan bermakam disitu.
2. Imam Muslim (wafat 261 H).
Abu Husein Muslim bin Hajaj bin
Muslim al Qusyairi an Nisaburi. Beliau salah seorang Ahli Hadits yang terkenal,
telah mengumpulkan sebanyak 300.000 hadits, tetapi setelah disaring dan
disaring, maka yang beliau tuliskan dalam “Kitab Sahih Muslim”, sesudah
dikurangi yang berulang – berulang, adalah sebanyak 4.000 buah hadits.
Ummat Islam telah bersatu
pendapat bahwa seluruh hadits yang terdapat dalam kitab Sahih Muslim, adalah
hadits – hadits yang sahih dan menjadi sumber hukum, sama dengan kitab sahih
Bukhari. Akan tetapi derajat kitab sahih Muslim dari segi kukuh sanad –
sanadnya adalah dibawah dari kitab sahih Bukhari, tetapi ditinjau dari sudut
susunan bab dan fasalnya, maka kitab sahih Muslim nomor satu. Dan Ummat Islam
telah sepakat, bahwa hadits – hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan
Muslim, adalah hadits – hadits yang paling tinggi kekuatannya dan paling puncak
kesahihannya.
Beliau wafat tahun 261 H. Di
Nisabur sebuah negeri di Persia.
3. Imam Tirmidzi (wafat 267 H).
Nama lengkap beliau adalah
Abulhasan Muhammad bin ‘Isa berasal dari desa Tirmidzi di pantai sungai Jihun
di Bukhara.
Dalam membaca kalimat “Tirmidzi” boleh tiga macam,
yang “Tirmidzi”, “Turmudzi”, dan “Tarmidzi”.
Kitab hadits sahih Tirmidzi
adalah kitab hadits besar yang menghimpun beribu hadits Nabi Muhammad Saw.
kitab yang ada pada penulis buku yang menjadi referensi tulisan ini adalah
sebesar 13 Jilid, yaitu Kitab Tirmidzi yang disyarah oleh Ibnul ‘Arabi al Maliki.
Beliau lahir tahun 200 H., dan
wafat tahun 267 H.
Kitab Tirmidzi termasuk kitab hadits yang 6 (Bukhari,
Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nisai, dan Ibnu Majah).
4. Imam Nisai (Wafat 302 H).
Nama lengkap beliau Abu
Abdirrahman Ahmad bin Syu’ib bin ‘Ali bin bahar bin Sizam bin Dinar an Nisai as
Syafi’i.
Beliau lahir disebuah desa bernama “Nisa” di daerah
khurasan (Asia Tengah) pada tahun 214 H.
Belajar ilmu di kota – kota dan
di negeri – negeri Islam ketika itu, sehingga beliau digelari dengan julukan
“el Hufadz” (yang banyak menghafal hadits diluar kepala). Beliau seorang imam
Hadits, tetapi dalam fiqih penganut Madzhab Syafi’i.
5
Ada orang mengatakan bahwa beliau
lebih berhati – hati dalam mengumpul hadits, melebihi kehati – hatian Imam
Bukhari dan Muslim, akan tetapi dalam keseluruhannya maka kitab Nasai di bawah
dari kitab Bukhari dan Muslim.
Beliau meninggal di Ramlah,
sebuah desa di Palestina dan bermakam di pemakaman Baitul Muqaddis pada tahun
302 H.
5. Imam Abu Daud (wafat 275 H).
Nama lengkap beliau Sulaiman bin
al-As’ats as-Sijistani as-Syafi’i.
Lahir di tahun 202 H.
Beliau telah mengumpulkan 50.000
hadits, tetapi yang dituliskan dalam kitab Sunan Abu Daud adalah sebanyak 4000
hadits. Menurut Imam Ibnul A’arabi : Andaikata tidak ada kitab yang ditangan
seseorang, tapi ada kitabullah dan sunan Abu Daud, maka itu sudah cukup untuk
ilmu pengetahuan. Beliau wafat tahun 275 H.
6. Imam Ibnu Majah (273 H).
Nama lengkap beliau Muhammad bin
Yazid Abi Abdillah Ibnu Majah al-Khuzuaini.
Lahir tahun 207 H. Menurut Imam Muhammad bin Abdul
Hadi, pensyarah kitab Ibnu Majah bahwa hadits yang terkumpul dalam kitab Ibnu
Majah adalah sebanyak 4000 hadits.
Kitab Ibnu Majah adalah termasuk
kitab Hadits yang enam, tetapi ada Ulama yang mengatakan bahwa Ibnu Majah
termasuk yang ketujuh, sedang yang keenam adalah Imam Maliki bin Anas (Al
Muwatha’). Dan beliau wafat pada tahun 273 H.
7. Imam Malik bin Anas (wafat 179 H).
Nama lengkap beliau adalah Malik
bin Anas bin Abi ‘Amir al-Anshari, dan digelari Abu Abdillah. Lahir di Madinah
pada tahun 95 H.
Imam Malik adalah seorang Ulama
Tabi’in (generasi kedua sesudah Nabi), yang sangat ‘alimnya. Beliau belajar
fikih kepada Rabi’ah ar-Ra’ji seorang guru yang terkenal dalam ilmu fikih
ketika itu.
Ilmu hadits beliau pelajari dari
Ulama – ulama hadits ketika itu, yaitu Imam Nafi’i, Imam Syaibah az-Zuhri dan
lain – lainnya.
Imam Malik bin Anas terkenal dengan gelar julukan
“Imam Darul Hijrah” (Imam kampung perpindahan).
Beliau adalah pembangun Madzhab
Maliki dalam fikih.
Tetapi walaupun beliau ahli fikih, beliau adalah
seorang ahli hadits pula. Kitab beliau “Al-Muwatha’”, memuat banyak hadits yang
dijaadikan sumber bagi hukum fikih oleh ulama – ulama fikih kemudian. Imam
Maliki mengumpul hadits selama 40 tahun telah menghapal sebanyak 100.000
hadits, tetapi kemudian hadiits – hadits yang banyak itu di saring sanadnya,
disaring matannya, maka yang tinggal yang dituliskan dalam kitab “Al-Muwatha’”
adalah sebanyak 5000 saja.
6
Setelah selesai mengarang kitab Al-Muwatha’,
maka beliau menunjukkan kitabnya itu kepada 70 orang ulama fikih pada zaman
itu, yang semuanya menyatakan setuju. Karena itu diberi judul dengan
Al-Muwatha’, yaitu kitab yang disetujui.
Beliau wafat di Madinah pada tahun 179 H.
8. Imam Ahmad bin Hambal (wafat 241 H).
Nama lengkap beliau adalah Ahmad
bin Muhammad bin Hilal as-Syaibani.
Lahir di bagdad tahun 164 H. Dan bapak beliau pada
muda nya bertempat tinggal di Marwin wilayah Khurasan (Asia Tengah). Beliau
adalah seorang ulama besar, baik dalam fikih maupun ilmu hadits, pembangun
Madzhab Hambali dalam fikih, tetapi juga menghapal dan pemangku hadits
(hufadz).
Menurut Imam Abu Zu’ah, Imam
Ahmad bin Hambal menghapal 1.000.000 hadits. Ini adalah suatu keramat bagi
Auliya – auliya Allah yang jarang tandingannya.
Kemudian hadits – hadits yang beliau hapal itu sudah
disaring dan disaring lagi dari bermacam – macam segi, maka yang dituliskan
dalam kitab Musnad adalah sebanyak 40.000 hadits, tetapi kalau dikurangi dengan
hadits – hadits yang dituliskan berulang – ulang, maka yang tinggal adalah
30.000 hadits. Baik juga dimaklumi bahwa salah seorang guru Ahmad bin Hambal
dalam fikih adalah Imam Syafi’i Rahimahullah.
Beliau wafat pada tahun 241 H. Di Bagdad.
9. Imam Baihaqi (wafat 458 H.).
Lahir pada tahun 384 H.Beliau
mengumpul hadits dan meletakkannya dalam kitab – kitab beliau yang bernama
Sunan Baihaqi, Syu’bul Imam, dan lain – lain. Beliau selain Ulama hadits
terkenal juga ahli fikih dalam Madzhab Syafi’i RHL., dan pembela I’tiqad Ahlussunnah
Wal Jama’ah. Beliau meninggal di Nisabur Persia dan bermakam di Baihaqi pada
tahun 458 H.
10. Imam Syafi’i (wafat 204 H).
Abu Abdillah Muhammad bin Idris
bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Said bin Ubeid bin Abdi Yazin bin Hasym
bin Abdil Muthalib bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Mathalabi.
Lahir tahun 150 H. Di Asqalan
Palestina, kemudian dibawa Ibunya kembali ke Mekkah. Belajar di Mekkah, dalam
usia 9 tahun telah menghafal Qur’an suci.
Guru beliau dalam ilmu hadits
adalah Sofyan bin Uyainah, Imam Malik bin Anas dan lain – lain. Beliau selain
Ahli fikih juga Mujtahid Muthlak, pembangun Madzhab Syafi’i yang terkenal dalam
fikih, juga ahli hadits. Kitab beliau Al-Umm, Al-Muzanni, dan lain – lain penuh
dengan hadits – hadits yang diriwayatkan oleh beliau.
Beliau wafat pada tahun 204 H. di Mesir dan bermakam
disitu.
11. Imam Daruquthni (wafat 385 H).
7
Abu Hasan Ali bin Umar ad –
Daruquthni, seorang ahli hadits yang jarang tandingannya pada masanya, yang
banyak mengetahui seluk beluk hadits, tahu hadits – hadits yang dha’if, dan
hadits – hadits yang baik tahu tentang orang – orang pemangku hadits, tsigah,
dipercaya, ‘dan menganut I’tiqad yang baik.
Di dalam fikih beliau menganut Madzhab Syafi’i.
Kitab beliau sunan Daruquthni
membuktikan kemahiran dan kecakapan beliau dengan hadits, sehingga beliau
diberi gelar “Amirul Mu’minin fil hadits”.
Kepada beliau Ulama- ulama hadits
yang lain mengambil hadits di antaranya al-Hafidz Abu Nu’im, Qadhi Abut Thaib,
Imam Thabari, Imam Abu Bakar al-Barqani dan lain – lain.
Beliau wafat pada tahun 385 H.
12. Imam Abu Nu’im (wafat 430 H).
Nama lengkap beliau adalah Abu
Nu’im Ahmad bin Abdillah al-Ashfahani.
Beliau lahir pada tahun 334 H. Beliau adalah seorang
Ahli hadits yang terkenal.
Baliau termasuk golongan Ahli hadits yang dipercayai.
Hadits – hadits beliau dipakai sebagai sandaran hukum, pengarang kitab hadits
“Al-Hulyah”.
Beliau wafat pada tahun 430 H.
dalam usia 96 tahun di Ashfahan (Persi) dan bermakam disitu.
Tambih :
Perkataan “Ahlul Hadits atau “Ahli Hadits” maksudnya ialah Ulama – ulama yang
menghafal beribu – ribu hadits, yang mengetahui sanad – sanadnya, mengetahui
sifat – sifat sanadnya (pemangkunya) sedalam – dalamnya, mengetahui lafazh dan
matan hadits sebaik – baiknya.
B. TINGKATAN PARA PERAWI HADITS
1. Tingkatan
Hadits Shahih
1. Bila diriwayatkan dengan
sanad-sanad dari “ashahhul asanid” (sanad paling shahih) seperti Malik
dari Nafi’ dari Ibnu Umar.
2. Bila disepakati oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq’alaih).
3. Bila diriwayatkan oleh Bukhari saja.
4. Bila diriwayatkan oleh Muslim saja.
5. Bila sesuai syarat keduanya meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya.
6. Bila sesuai syarat Bukhari saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
7. Bila sesuai syarat Muslim saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
8. Apabila shahih menurut para ulama selain Bukhari dan Muslim (seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban), dan tidak sesuai syarat keduanya.
2. Bila disepakati oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq’alaih).
3. Bila diriwayatkan oleh Bukhari saja.
4. Bila diriwayatkan oleh Muslim saja.
5. Bila sesuai syarat keduanya meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya.
6. Bila sesuai syarat Bukhari saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
7. Bila sesuai syarat Muslim saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
8. Apabila shahih menurut para ulama selain Bukhari dan Muslim (seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban), dan tidak sesuai syarat keduanya.
8
2.Tingkatan
Para Perawi
1. Di antara
mereka Ats-Tsabt (yang teguh), Al-Hafizh (yang hafalannya kuat),
Al-Wari’ (yang saleh), Al-Mutqin (yang teliti), An-Naqid (yang
kritis terhadap hadits). Yang mendapat predikat demikian ini tidak lagi
diperselisihkan, dan dijadikan pegangan atas Jahr dan Ta’dil-nya, dan
pendapatnya tentang para perawi dapat dijadikan sebagai hujjah.
2. Di antara
mereka ada yang memiliki sifat Al-’Adl dalam dirinya, tsabt teguh dalam
periwayatannya, shaduq jujur dan benar dalam penyampaiannya, wara’ dalam
agamanya, hafizh dan mutqin pada haditsnya. Demikian itu adalah perawi yang
‘adil yang bisa dijadikan hujjah dengan haditsnya, dan dipercaya pribadinya.
3. Di antara
mereka ada yang shaduq, wara’, shaleh dan bertaqwa, tsabt namun terkadang salah
periwayatannya. Para ulama yang peneliti hadits masih menerimanya dan dapat dijadikan
sebagai hujjah haditsnya.
4. Di antara
mereka ada yang shaduq, wara’, bertaqwa namun seringkali lalai, ragu, salah,
dan lupa. Yang demikian ini boleh ditulis haditsnya bila terkait dengan targhib
(motivasi) dan tarhib (ancaman), kezuhudan, dan adab,
sedangkan dalam masalah halal dan haram tidak boleh berhujjah dengan haditsnya.
5. Adapun orang
yang nampak darinya kebohongan maka haditsnya ditinggalkan dan riwayatnya
dibuang.
(Muqadimah Al-Jarh wa At-Ta’dil:1/10)
(Muqadimah Al-Jarh wa At-Ta’dil:1/10)
3. Ilmu
Rijalul Hadits
Dinamakan juga
dengan Ilmu Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) adalah ilmu yang
dengannya dapat diketahui keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya,
wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negeri dan tanah air
mereka, dan yang selain itu yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan
keadaan mereka.
Ilmu ini berkaitan
dengan perkembangan riwayat. Para ulama sangat perhatian terhadap ilmu ini
dengan tujuan mengetahui para perawi dan meneliti keadaan mereka, karena dari
situlah mereka menimba ilmu agama. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya
ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil
agamamu.”*(Muqadimah Shahih Muslim)
Maka dengan Ilmu
Tarikh Rijal Al-Hadits ini akan sangat membantu untuk mengetahui derajat hadits
dan sanad (apakah sanadnya muttashil atau munqathi’).
9
DAFTAR PUSTAKA
K.H. Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama ( Jakarta :
Pustaka Tarbiyah, 1992).
Syaikh Manna’
Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Pustaka Al-Kautsar
11
KATA
PENGANTAR
Bismillah
Hirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum War.Wab.
Dengan
memanjatkan puja dan puji Syukur kehadirat
Allah SWT, sehingga atas ridhanya makalah Hadits dapat terselesaikan. Tidak lupa
Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad saw. yang kelak kita nanti-nantikan syafa’atnya dihari yaumul qiyamah
dan beliau juga yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang
penuh cahaya.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada pembimbing mata kuliah Metode Studi Hadits,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulis menyadari bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Semoga
makalah ini dapat bermanfa’at bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya, amin ya
rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum War.Wab.
Banjarmasin,
14 Maret 2013
Penyusun
1
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar....................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................. 2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Para Perawi Hadits................................................................................ 4
B. Tingkatan Para Perawi Hadits............................................................................ 7
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan ....................................................................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................ 11
2
Tugas
Terstruktur Dosen Pembimbing
METODE
STUDY HADITS Hj. Inawati M. Jaini, M.A
SEJARAH PARA PERAWI HADITS
DAN TINGKATAN PERAWINYA

DISUSUN OLEH:
AFIF AMRULLAH (1201120071)
WAHDAH (1201120069)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS SYARIAH
PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM
BANJARMASIN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Umat islam mengalami kemajuan dalam zaman klasik (
650-1250 ) Dalam sejarah sejak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000
M. Pada masa ini telah hidup ulama’ besar yang tidak sedikit jumlahnya baik di bidang
tafsir, hadist, fiqih dan lain-lain.
Berdasarkan bukti histories ini menggambarkan bahwa
periwayatan dan perkembangan hadist sejalan seiring dengan perkembangan lainnya
menatap persektif keilmuan hadits bergambar jelas bahwa ajaran hadist ternyata
mempunyai andil besar dalam mendorong kemajuan umat islam. Sebab hadist nabi
sebagaimana Al Qur’an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut
pengetahuan dengan demikian disiplin ilmu hadist justru menybabkan kemajuan
umat islam.
B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah beberapa para perawi-perawi hadits ?
2. Dan bagaimana tingkatan para perawi hadits tersebut ?
3
KESIMPULAN
Ilmu rijal
al-hadits ialah ilmu yang mempelajari sejarah perawi-perawi hadits yang berpegang
kepada mazhab itu, dapat di terima atau di tolak riwayat mereka, serta cara
mereka menerima hadits.
Ilmu Rijalul Hadist adalah suatu
cabang dari ilmu-ilmu hadist , tidaklah sempurna ilmu seseorang dalam bidang
hadist apabila dia tidak mengetahui atau mendalami ilmu Rijalul Hadist dan dari
ilmu inilah berkembang ilmu jar wata’dil dalam usaha penelitian sanad suatu
hadist.
Dalam usaha mempelajari dan
mendalami ilmu mustolah l hadist tidak boleh mengesampingkan ilmu Rijalnya
karena melengkapi diri denagn ilmu-ilmu ini syarat mutlak dalam usaha membangun
laboratorium tarjih
10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar