Rabu, 30 April 2014

para perawi hadits makalah




BAB I


A. SEJARAH PARA PERAWI HADITS

Pengertian Rijalul Hadist
Ilmu Rijalul Hadist adalah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan-keadaan perowi, perjalanan hidup mereka baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’in. Dalam definisi lain dapat di simpukan bahwa ilmu Rijalul Hadist adalah sejarah perowi-perowi hadist dan mazhab-mazhab yang mereka pegang yang dengan mempelajari sejarahnya dapat di terima atau di tolaknya riwayat mereka.
1.      Imam Bukhari (wafat 256 H.).

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Yardizhab al Bukhari.
Lahir pada hari jum’at 13 Syawal 194 H. Di sebuah desa di Bukhara (Tasykent) Asia Tengah.
Beliau seorang Ahli Hadits yang menghabiskan umurnya khusus untuk mengumpulkan hadits – hadits Nabi yang ketika itu masih bercerai – berai terletak didalam dada Ulama – ulama pemangku hadits. Didatangi beliau kota – kota, desa – desa dan daerah – daerah Islam ketika itu, ditanya, diambil, dikumpulkan hadits – hadits Nabi, diteliti matannya (lafadznya) diperhatikan sanadnya (orang – orang yang memangkunya), kemudian dituliskan kedalam kitab beliau yang bernama “Kitab Sahih Bukhari”.
Diantara hadits – hadits itu ada juga yang dituliskan dalam kitab – kitab yang lain yaitu dalam kitab “Adabul Mufrad”, kitab “Tarekh Al-Kabir”, dan lain – lainya.
Beliau telah mengumpul sebanyak 600.000 hadits, yang kemudian setelah disaring dan disaring dari berbagai segi, maka yang dituliskan dalam “Kitab Sahih Bukhari” saja sebanyak 7275 dan sesudah dikurangi yang berulang – ulang, adalah sebanyak 2513 hadits.
Sepanjang riwayat, bahwa pada setiap akan menuliskan hadits dalam kitab Sahih Bukhari, beliau berudhu’ dengan air zam – zam dan sembahyang sunah 2 raka’at di makam Ibrahim As. Ini berarti bahwa sekalian hadits Bukhari ditulis di Mekkah dekat Ka’bah Al-Musyarrafah.
Bukan saja dituliskan tetapi juga Imam Bukhari telah membacakan hadits – hadits itu kepada murid – murid beliau yang banyak sekali.
Sepanjang riwayat sampai 90.000 orang banyaknya yang mendengar dari mulut beliau. Tetapi walaupun beliau Ahli Hadits No.1, namun dalam furu’ syari’at beliau menganut Madzhab Syafi’i RHL.
4
Kitab Shahih Bukhari adalah sebuah kitab yang dianggab oleh Umat Islam sebagai kitab hadits yang paling sahih diatas dunia ini, nomor dua dibawah Al-Qur’an.
Beliau wafat di Bukhara desa Kartank di samarkan tahun 256 H. Dan bermakam disitu.

2.      Imam Muslim (wafat 261 H).

Abu Husein Muslim bin Hajaj bin Muslim al Qusyairi an Nisaburi. Beliau salah seorang Ahli Hadits yang terkenal, telah mengumpulkan sebanyak 300.000 hadits, tetapi setelah disaring dan disaring, maka yang beliau tuliskan dalam “Kitab Sahih Muslim”, sesudah dikurangi yang berulang – berulang, adalah sebanyak 4.000 buah hadits.
Ummat Islam telah bersatu pendapat bahwa seluruh hadits yang terdapat dalam kitab Sahih Muslim, adalah hadits – hadits yang sahih dan menjadi sumber hukum, sama dengan kitab sahih Bukhari. Akan tetapi derajat kitab sahih Muslim dari segi kukuh sanad – sanadnya adalah dibawah dari kitab sahih Bukhari, tetapi ditinjau dari sudut susunan bab dan fasalnya, maka kitab sahih Muslim nomor satu. Dan Ummat Islam telah sepakat, bahwa hadits – hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, adalah hadits – hadits yang paling tinggi kekuatannya dan paling puncak kesahihannya.
Beliau wafat tahun 261 H. Di Nisabur sebuah negeri di Persia.

3.      Imam Tirmidzi (wafat 267 H).

Nama lengkap beliau adalah Abulhasan Muhammad bin ‘Isa berasal dari desa Tirmidzi di pantai sungai Jihun di Bukhara.
Dalam membaca kalimat “Tirmidzi” boleh tiga macam, yang “Tirmidzi”, “Turmudzi”, dan “Tarmidzi”.
Kitab hadits sahih Tirmidzi adalah kitab hadits besar yang menghimpun beribu hadits Nabi Muhammad Saw. kitab yang ada pada penulis buku yang menjadi referensi tulisan ini adalah sebesar 13 Jilid, yaitu Kitab Tirmidzi yang disyarah oleh Ibnul ‘Arabi al Maliki.
Beliau lahir tahun 200 H., dan wafat tahun 267 H.
Kitab Tirmidzi termasuk kitab hadits yang 6 (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nisai, dan Ibnu Majah).

4.      Imam Nisai (Wafat 302 H).

Nama lengkap beliau Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’ib bin ‘Ali bin bahar bin Sizam bin Dinar an Nisai as Syafi’i.
Beliau lahir disebuah desa bernama “Nisa” di daerah khurasan (Asia Tengah) pada tahun 214 H.
Belajar ilmu di kota – kota dan di negeri – negeri Islam ketika itu, sehingga beliau digelari dengan julukan “el Hufadz” (yang banyak menghafal hadits diluar kepala). Beliau seorang imam Hadits, tetapi dalam fiqih penganut Madzhab Syafi’i.

5
Ada orang mengatakan bahwa beliau lebih berhati – hati dalam mengumpul hadits, melebihi kehati – hatian Imam Bukhari dan Muslim, akan tetapi dalam keseluruhannya maka kitab Nasai di bawah dari kitab Bukhari dan Muslim.
Beliau meninggal di Ramlah, sebuah desa di Palestina dan bermakam di pemakaman Baitul Muqaddis pada tahun 302 H.

5.      Imam Abu Daud (wafat 275 H).
           
Nama lengkap beliau Sulaiman bin al-As’ats as-Sijistani as-Syafi’i.
Lahir di tahun 202 H.
Beliau telah mengumpulkan 50.000 hadits, tetapi yang dituliskan dalam kitab Sunan Abu Daud adalah sebanyak 4000 hadits. Menurut Imam Ibnul A’arabi : Andaikata tidak ada kitab yang ditangan seseorang, tapi ada kitabullah dan sunan Abu Daud, maka itu sudah cukup untuk ilmu pengetahuan. Beliau wafat tahun 275 H.

6.      Imam Ibnu Majah (273 H).

Nama lengkap beliau Muhammad bin Yazid Abi Abdillah Ibnu Majah al-Khuzuaini.
Lahir tahun 207 H. Menurut Imam Muhammad bin Abdul Hadi, pensyarah kitab Ibnu Majah bahwa hadits yang terkumpul dalam kitab Ibnu Majah adalah sebanyak 4000 hadits.
Kitab Ibnu Majah adalah termasuk kitab Hadits yang enam, tetapi ada Ulama yang mengatakan bahwa Ibnu Majah termasuk yang ketujuh, sedang yang keenam adalah Imam Maliki bin Anas (Al Muwatha’). Dan beliau wafat pada tahun 273 H.

7.      Imam Malik bin Anas (wafat 179 H).

Nama lengkap beliau adalah Malik bin Anas bin Abi ‘Amir al-Anshari, dan digelari Abu Abdillah. Lahir di Madinah pada tahun 95 H.
Imam Malik adalah seorang Ulama Tabi’in (generasi kedua sesudah Nabi), yang sangat ‘alimnya. Beliau belajar fikih kepada Rabi’ah ar-Ra’ji seorang guru yang terkenal dalam ilmu fikih ketika itu.
Ilmu hadits beliau pelajari dari Ulama – ulama hadits ketika itu, yaitu Imam Nafi’i, Imam Syaibah az-Zuhri dan lain – lainnya.
Imam Malik bin Anas terkenal dengan gelar julukan “Imam Darul Hijrah” (Imam kampung perpindahan).
Beliau adalah pembangun Madzhab Maliki dalam fikih.
Tetapi walaupun beliau ahli fikih, beliau adalah seorang ahli hadits pula. Kitab beliau “Al-Muwatha’”, memuat banyak hadits yang dijaadikan sumber bagi hukum fikih oleh ulama – ulama fikih kemudian. Imam Maliki mengumpul hadits selama 40 tahun telah menghapal sebanyak 100.000 hadits, tetapi kemudian hadiits – hadits yang banyak itu di saring sanadnya, disaring matannya, maka yang tinggal yang dituliskan dalam kitab “Al-Muwatha’” adalah sebanyak 5000 saja.
6
Setelah selesai mengarang kitab Al-Muwatha’, maka beliau menunjukkan kitabnya itu kepada 70 orang ulama fikih pada zaman itu, yang semuanya menyatakan setuju. Karena itu diberi judul dengan Al-Muwatha’, yaitu kitab yang disetujui.
Beliau wafat di Madinah pada tahun 179 H.

8.      Imam Ahmad bin Hambal (wafat 241 H).

Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hilal as-Syaibani.
Lahir di bagdad tahun 164 H. Dan bapak beliau pada muda nya bertempat tinggal di Marwin wilayah Khurasan (Asia Tengah). Beliau adalah seorang ulama besar, baik dalam fikih maupun ilmu hadits, pembangun Madzhab Hambali dalam fikih, tetapi juga menghapal dan pemangku hadits (hufadz).
Menurut Imam Abu Zu’ah, Imam Ahmad bin Hambal menghapal 1.000.000 hadits. Ini adalah suatu keramat bagi Auliya – auliya Allah yang jarang tandingannya.
Kemudian hadits – hadits yang beliau hapal itu sudah disaring dan disaring lagi dari bermacam – macam segi, maka yang dituliskan dalam kitab Musnad adalah sebanyak 40.000 hadits, tetapi kalau dikurangi dengan hadits – hadits yang dituliskan berulang – ulang, maka yang tinggal adalah 30.000 hadits. Baik juga dimaklumi bahwa salah seorang guru Ahmad bin Hambal dalam fikih adalah Imam Syafi’i Rahimahullah.
Beliau wafat pada tahun 241 H. Di Bagdad.

9.      Imam Baihaqi (wafat 458 H.).

Lahir pada tahun 384 H.Beliau mengumpul hadits dan meletakkannya dalam kitab – kitab beliau yang bernama Sunan Baihaqi, Syu’bul Imam, dan lain – lain. Beliau selain Ulama hadits terkenal juga ahli fikih dalam Madzhab Syafi’i RHL., dan pembela I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah. Beliau meninggal di Nisabur Persia dan bermakam di Baihaqi pada tahun 458 H.

10.      Imam Syafi’i (wafat 204 H).

Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Said bin Ubeid bin Abdi Yazin bin Hasym bin Abdil Muthalib bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Mathalabi.
Lahir tahun 150 H. Di Asqalan Palestina, kemudian dibawa Ibunya kembali ke Mekkah. Belajar di Mekkah, dalam usia 9 tahun telah menghafal Qur’an suci.
Guru beliau dalam ilmu hadits adalah Sofyan bin Uyainah, Imam Malik bin Anas dan lain – lain. Beliau selain Ahli fikih juga Mujtahid Muthlak, pembangun Madzhab Syafi’i yang terkenal dalam fikih, juga ahli hadits. Kitab beliau Al-Umm, Al-Muzanni, dan lain – lain penuh dengan hadits – hadits yang diriwayatkan oleh beliau.
Beliau wafat pada tahun 204 H. di Mesir dan bermakam disitu.

11.      Imam Daruquthni (wafat 385 H).
7
           
Abu Hasan Ali bin Umar ad – Daruquthni, seorang ahli hadits yang jarang tandingannya pada masanya, yang banyak mengetahui seluk beluk hadits, tahu hadits – hadits yang dha’if, dan hadits – hadits yang baik tahu tentang orang – orang pemangku hadits, tsigah, dipercaya, ‘dan menganut I’tiqad yang baik.
Di dalam fikih beliau menganut Madzhab Syafi’i.
Kitab beliau sunan Daruquthni membuktikan kemahiran dan kecakapan beliau dengan hadits, sehingga beliau diberi gelar “Amirul Mu’minin fil hadits”.
Kepada beliau Ulama- ulama hadits yang lain mengambil hadits di antaranya al-Hafidz Abu Nu’im, Qadhi Abut Thaib, Imam Thabari, Imam Abu Bakar al-Barqani dan lain – lain.
Beliau wafat pada tahun 385 H.

12.      Imam Abu Nu’im (wafat 430 H).

Nama lengkap beliau adalah Abu Nu’im Ahmad bin Abdillah al-Ashfahani.
Beliau lahir pada tahun 334 H. Beliau adalah seorang Ahli hadits yang terkenal.
Baliau termasuk golongan Ahli hadits yang dipercayai. Hadits – hadits beliau dipakai sebagai sandaran hukum, pengarang kitab hadits “Al-Hulyah”.
Beliau wafat pada tahun 430 H. dalam usia 96 tahun di Ashfahan (Persi) dan bermakam disitu.

Tambih :
            Perkataan “Ahlul Hadits atau “Ahli Hadits” maksudnya ialah Ulama – ulama yang menghafal beribu – ribu hadits, yang mengetahui sanad – sanadnya, mengetahui sifat – sifat sanadnya (pemangkunya) sedalam – dalamnya, mengetahui lafazh dan matan hadits sebaik – baiknya.

B. TINGKATAN PARA PERAWI HADITS
1. Tingkatan Hadits Shahih
1. Bila diriwayatkan dengan sanad-sanad dari “ashahhul asanid” (sanad paling shahih) seperti Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.
2. Bila disepakati oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq’alaih).
3. Bila diriwayatkan oleh Bukhari saja.
4. Bila diriwayatkan oleh Muslim saja.
5. Bila sesuai syarat keduanya meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya.
6. Bila sesuai syarat Bukhari saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
7. Bila sesuai syarat Muslim saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
8. Apabila shahih menurut para ulama selain Bukhari dan Muslim (seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban), dan tidak sesuai syarat keduanya.
8
2.Tingkatan Para Perawi
1. Di antara mereka Ats-Tsabt (yang teguh), Al-Hafizh (yang hafalannya kuat), Al-Wari’ (yang saleh), Al-Mutqin (yang teliti), An-Naqid (yang kritis terhadap hadits). Yang mendapat predikat demikian ini tidak lagi diperselisihkan, dan dijadikan pegangan atas Jahr dan Ta’dil-nya, dan pendapatnya tentang para perawi dapat dijadikan sebagai hujjah.
2. Di antara mereka ada yang memiliki sifat Al-’Adl dalam dirinya, tsabt teguh dalam periwayatannya, shaduq jujur dan benar dalam penyampaiannya, wara’ dalam agamanya, hafizh dan mutqin pada haditsnya. Demikian itu adalah perawi yang ‘adil yang bisa dijadikan hujjah dengan haditsnya, dan dipercaya pribadinya.
3. Di antara mereka ada yang shaduq, wara’, shaleh dan bertaqwa, tsabt namun terkadang salah periwayatannya. Para ulama yang peneliti hadits masih menerimanya dan dapat dijadikan sebagai hujjah haditsnya.
4. Di antara mereka ada yang shaduq, wara’, bertaqwa namun seringkali lalai, ragu, salah, dan lupa. Yang demikian ini boleh ditulis haditsnya bila terkait dengan targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman), kezuhudan, dan adab, sedangkan dalam masalah halal dan haram tidak boleh berhujjah dengan haditsnya.
5. Adapun orang yang nampak darinya kebohongan maka haditsnya ditinggalkan dan riwayatnya dibuang.
(Muqadimah Al-Jarh wa At-Ta’dil:1/10)
3. Ilmu Rijalul Hadits
Dinamakan juga dengan Ilmu Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negeri dan tanah air mereka, dan yang selain itu yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka.
Ilmu ini berkaitan dengan perkembangan riwayat. Para ulama sangat perhatian terhadap ilmu ini dengan tujuan mengetahui para perawi dan meneliti keadaan mereka, karena dari situlah mereka menimba ilmu agama. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”*(Muqadimah Shahih Muslim)
Maka dengan Ilmu Tarikh Rijal Al-Hadits ini akan sangat membantu untuk mengetahui derajat hadits dan sanad (apakah sanadnya muttashil atau munqathi’).

9

DAFTAR PUSTAKA


K.H. Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama ( Jakarta : Pustaka Tarbiyah, 1992).

Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Pustaka Al-Kautsar







































11

KATA PENGANTAR
Bismillah Hirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum War.Wab.
Dengan memanjatkan puja dan puji Syukur kehadirat Allah SWT, sehingga atas ridhanya makalah Hadits dapat terselesaikan. Tidak lupa Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw. yang kelak kita nanti-nantikan syafa’atnya dihari yaumul qiyamah dan beliau juga yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh cahaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing mata kuliah Metode Studi Hadits, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfa’at bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya, amin ya rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum War.Wab.

Banjarmasin, 14 Maret 2013              
                                                                                                               Penyusun

 







1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Para Perawi Hadits................................................................................ 4
B. Tingkatan Para Perawi Hadits............................................................................ 7
BAB III PENUTUP
     Kesimpulan ....................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11






















2


Tugas Terstruktur                                                                  Dosen Pembimbing
            METODE STUDY HADITS                                          Hj. Inawati M. Jaini, M.A


SEJARAH PARA PERAWI HADITS
DAN TINGKATAN PERAWINYA
                                                                 
                               
DISUSUN OLEH:
AFIF AMRULLAH (1201120071)
WAHDAH (1201120069)
                       
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS SYARIAH
PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM
BANJARMASIN
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umat islam mengalami kemajuan dalam zaman klasik ( 650-1250 ) Dalam sejarah sejak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. Pada masa ini telah hidup ulama’ besar yang tidak sedikit jumlahnya baik di bidang tafsir, hadist, fiqih dan lain-lain.
Berdasarkan bukti histories ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan hadist sejalan seiring dengan perkembangan lainnya menatap persektif keilmuan hadits bergambar jelas bahwa ajaran hadist ternyata mempunyai andil besar dalam mendorong kemajuan umat islam. Sebab hadist nabi sebagaimana Al Qur’an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut pengetahuan dengan demikian disiplin ilmu hadist justru menybabkan kemajuan umat islam.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah beberapa para perawi-perawi hadits ?
2. Dan bagaimana tingkatan para perawi hadits tersebut ?










3



KESIMPULAN

                Ilmu rijal al-hadits ialah ilmu yang mempelajari sejarah perawi-perawi hadits yang berpegang kepada mazhab itu, dapat di terima atau di tolak riwayat mereka, serta cara mereka menerima hadits.
Ilmu Rijalul Hadist adalah suatu cabang dari ilmu-ilmu hadist , tidaklah sempurna ilmu seseorang dalam bidang hadist apabila dia tidak mengetahui atau mendalami ilmu Rijalul Hadist dan dari ilmu inilah berkembang ilmu jar wata’dil dalam usaha penelitian sanad suatu hadist.
Dalam usaha mempelajari dan mendalami ilmu mustolah l hadist tidak boleh mengesampingkan ilmu Rijalnya karena melengkapi diri denagn ilmu-ilmu ini syarat mutlak dalam usaha membangun laboratorium tarjih



























10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar